Pernah Dengar Suara “Tok-Tok” di Lantai? Hati-hati, Itu Keramik Kopong!
Pernah nggak sih, lagi asik jalan santai di dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara “tok-tok” yang aneh dari bawah kaki? Atau pas lagi nyapu, rasanya ada bagian lantai yang bunyinya lebih nyaring dan terasa kosong?
Kalau iya, jangan diabaikan ya! Besar kemungkinan lantai keramik kamu sedang mengalami kondisi kopong. Kedengarannya sepele, tapi sebelum kamu buru-buru ambil palu untuk bongkar semuanya, yuk kita bedah pelan-pelan apa sebenarnya yang terjadi pada lantai rumahmu.
Apa Sih Sebenarnya Keramik Kopong Itu?
Gampangnya begini: keramik kopong atau bahasa teknisnya biasa dikenal dengan istilah ”Popping” adalah kondisi di mana ada “ruang hampa” atau rongga udara di bawah ubin kamu. Seharusnya, bagian bawah keramik menempel sempurna dengan semen (screed). Tapi karena satu dan lain hal, mereka justru “putus hubungan.”
Selain suaranya yang nyaring saat diketuk, keramik kopong ini adalah bom waktu. Keramik yang tidak menempel sempurna sangat rentan pecah, apalagi kalau terinjak beban berat atau terkena perubahan cuaca yang ekstrem.
Awalnya cuma bunyi.
Lama-lama bisa retak, pecah, atau amblas — apalagi kalau sering kena beban berat.
- Kenapa Lantai Bisa “Curhat” Lewat Suara Kopong? Ternyata ada beberapa alasan teknis kenapa lantai rumahmu nggak menempel maksimal:
- Adukan Semen yang “Pelit” atau Gak Rata: Kadang saat pemasangan, adukan semen di bawah keramik nggak diratakan dengan benar. Akhirnya, ada gelembung udara yang terjebak di sana.
- Salah Pilih “Perekat / Lem”: Pakai semen biasa tanpa campuran bahan perekat (aditif) seringkali nggak cukup kuat untuk mengikat keramik dalam jangka panjang.
- Cuaca Terlalu Panas: Kalau semen mengering terlalu cepat sebelum sempat mengikat kuat (biasanya karena cuaca terik atau keramik nggak direndam air dulu), keramik jadi gampang lepas.
- Getaran di Sekitar Rumah: Rumah yang dekat jalan raya besar atau rel kereta sering mengalami getaran mikro yang lama-kelamaan bisa melepas kaitan keramik dari dasarnya.
- Metode penanganan keramik yang salah: Kesalahan Umum dalam Penanganan Keramik Sebelum Pemasangan Keramik jenis granite tile diproduksi melalui proses pembakaran suhu tinggi dengan tingkat kepadatan material yang sangat tinggi, sehingga porositasnya sangat rendah. Pada kondisi ini, perendaman keramik justru tidak memberikan manfaat signifikan dan tidak wajib dilakukan.
- Hal hal yang perlu lebih diperhatikan daripada perendaman adalah :
- Jenis perekat (tile adhesive vs semen biasa)
- Teknik buttering (oles perekat di lantai & belakang keramik)
- Kerataan substrat
- Waktu open time perekat
- Pecah Mendadak: Keramik bisa retak atau hancur saat kamu menggeser furnitur atau sekadar terinjak.
- Sarang Jamur: Rongga di bawah lantai bisa jadi tempat air mengendap, bikin lantai lembap dan berjamur.
- Biaya Membengkak: Kalau satu pecah dan kamu nggak punya stok keramik cadangan, kamu mungkin harus bongkar seluruh ruangan karena motif yang lama sudah nggak dijual lagi. Duh!
Solusi Cerdas Tanpa Harus Bongkar Total
Kabar baiknya, pada beberapa kasus terntu kamu nggak selalu harus membongkar semua lantai. Berikut beberapa cara mengatasinya:
Metode | Penjelasan |
Injeksi Perekat | Tim ahli akan mengebor lubang kecil di nat keramik, lalu menyuntikkan cairan perekat khusus ke dalamnya. Tanpa bongkar, lantai langsung kokoh lagi! |
Ganti Per Lembar | Jika hanya satu atau dua yang parah, cukup ganti bagian yang rusak saja menggunakan semen instan berkualitas tinggi. |
Punya masalah lantai yang serupa? Jangan tunggu sampai pecah ya! Yuk, diskusikan kondisi lantai rumahmu dengan kami sekarang juga.